Sejarah Masjid

Ditulis Oleh admin

22 Juni 2020

Mulai dibangun pada 1990

Bermula dari niat tulus pasangan H.M. Roosdilan Kurdi, SH dan Hj. Ny. Sumardilah Oriana, SH, untuk kemashlahatan umat di sekitar tempat kediaman mereka, maka di atas lahan yang dibeli sekitar awal tahun delapan puluhan persis di pinggir jalan Raya Cilangkap tanah seluas ± 5.000 M2 didirikan sarana pendidikan dan sarana ibadah (masjid). Tanah ini dibeli bapak H.M. Roosdilan Kurdi (alm) dari beberapa orang melalui perantara Bapak Batubara (Alm) berupa tanah gerek kemudian dibuat dua sertifikat masing-masing atas nama H.M. Roosdilan dan Hj. Ny. Sumardilah Oriana (isteri) dengan status tanah hak milik. Di atas tanah tersebut yang semula berupa rawa yang oleh penduduk dikenal dengan “Rawa Dilan” dan nama rawa tersebut tidak ada hubungannya dengan H.M. Roosdilan. Karena ketika dibeli sudah berupa tanah kebun pisang dan beberapa pohon jengkol, kecapi dan ambacang.

Dari sinilah takdirnya, bapak H.M. Roosdilan yang terdorong sejak lama hendak membangun masjid sebagai tempat syiar Islam. Apalagi pada saat itu kondisi Cilangkap masih kampung yang warganya mayoritas Betawi asli dan jauh dari aktifitas pendidikan dan dakwah. Beliaupun tertantang dan bertekad ingin membantu masyarakat, menyiapkan rumah ibadah, sarana pendidikan dan dakwah agar anak-anak, remaja dan orang tua dapat terbina.

Mulailah pada tahun 1990 tanah kebun pisang diratakan dan diuruk dengan tanah yang berasal dari dataran tinggi di daerah Munjul ratusan truk hingga padat. Dan di atas tanah urugan tersebut mulai didirikan bangunan berlantai dua dengan pondasi yang sangat kokoh, lantai dasar (pertama) untuk sarana pendidikan dan lantai dua untuk sarana ibadah (masjid). Model bangunan (arsitektur) Masjid Nurul Iman memang agak unik. Bangunan utamanya menonjolkan arsitektur khas Banjarmasin, sementara bagian dalamnya mengambil gaya Jawa, termasuk menaranya. Hal itu dapat dimaklumi, sebab pasangan ini berasal dari Banjarmasin dan Solo. Tapi uniknya lagi, arsitektur tersebut sebelumnya tanpa rencana gambar. Dengan konstruksi panggung dan beratap tumpang/tingkat yang mengecil ke atas, adanya tiang guru serta bagian mihrab memiliki atap sendiri merupakan ciri khas Banjar. Adanya serambi, ruang shalat utama, menara masjid dan pintu gerbang yang khas, merupakan ciri masjid Kraton Solo. Hampir lima tahun proses pembangunan masjid ini baru selesai, semuanya dibiayai sendiri tanpa meminta bantuan pihak lain, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Agar bangunan masjid tidak terkesan milik pribadi, maka pada tahun 1995 tanah dengan Sertifikat Tanah Hak milik “dihibahkan” kepada Yayasan Nurul Iman yang selanjutnya diterbitkan Sertifikat Hak Pakai, termasuk IMB atas nama Yayasan Nurul Iman.

Nurul Iman yang bermakna Cahaya Iman

Masjid ini diberi nama Nurul Iman yang artinya cahaya iman, diharapkan melalui masjid ini memancar cahaya iman yang menerangi warga masyarakat sekitarnya. Namun masyarakat lebih mengenal masjid ini dengan sebutan “Masjid Hijau” karena warnanya hijau, dan sampai sekarang warna hijau itu tetap dipertahankan. Masjid ini diresmikan pada 29 Nopember 1995 oleh Bapak H.R. Museno selaku Wagub Bidang Kesra bersamaan dengan penyelenggaraan MTQ tingkat Kodya Jakarta Timur.

Sejak tahun 1996 dibuka TK/TP Al-Qur’an pada siang dan sore hari, yang tiga tahun pertama jumlah santri mencapai ratusan orang dan tidak dipungut biaya apa-apa. Sementara pagi harinya dibuka TK Islam Nurul Iman. Masjid dan pendidikan (TK/TP Al-Qur’an dan TK Islam Nurul Iman) dikelola oleh yayasan keluarga dengan nama Yayasan Nurul Iman yang didirikan sesuai akta pada tanggal 29-11-1990 no. 41. Kemudian dilakukan perubahan nama menjadi Yayasan Nurul Iman Cilangkap sesuai akta pada tanggal 10-03-2005 nomor 02. Kemudian dilakukan perbaikan pada tanggal 12-06-2006 nomor 01.

Sampai tahun 2000 Bapak H.M. Roosdilan tetap berkomitmen membiayai sepenuhnya segala sesuatu yang berhubungan dengan masjid (seperti biaya listrik, petugas kebersihan, keamanan, muadzin, imam, khatib serta biaya pemeliharaan dan perbaikan). Beliau awalnya tidak mengijinkan adanya kotak infaq yang beredar setiap Jum’at, apalagi membuat surat permohonan dana.

Selama aku masih kuat, maka biarkan ini menjadi tanggung-jawabku

Bapak H.M. Roosdilan, rahimahullah

Dua tahun pasca krisis moneter, penghasilan keluarga mulai goyah, dan ini dialami hampir semua orang. Kami menyarankan agar tanggung-jawab mengelola masjid melibatkan masyarakat. Mereka juga ingin beramal melalui masjid ini. Kalau semula manajemen dan pembiayaan masjid dipegang sepenuhnya oleh keluarga tanpa melibatkan masyarakat, maka sejak tahun 2001 mulai melibatkan masyarakat terutama dalam pembiayaan. Mulailah dibuat kotak amal yang beredar setiap Jum’at, dan sesekali dalam situasi mendesak mengeluarkan surat permohonan dana. Kondisi semacam ini berjalan cukup lama. Kalau dibuat periodesasi: Periode I (1990 – 2000) masa membangun dan pengelolaan sepenuhnya diurus oleh keluarga. Periode II (2001 – 2010) pengelolaan tetap dipegang keluarga sementara pembiayaan melibatkan masyarakat.

Renovasi Masjid di 2011

Mulai tahun 2011 (setelah usia masjid ± 20 tahun) mulai nampak kebutuhan biaya yang cukup besar khususnya perbaikan/renovasi dan penambahan beberapa bangunan. Mengingat Yayasan Nurul Iman Cilangkap adalah milik keluarga, sementara masjid khususnya diharapkan menjadi milik masyarakat luas sesuai niat dan cita-cita awal didirikannya, serta harapan masyarakat agar masjid sepenuhnya menjadi milik ummat. Kemudian Pemilik/Yayasan dengan ikhlas mewakafkan kepada masyarakat yang beragama Islam, khususnya yang berada di kelurahan Cilangkap agar dikelola dan dimanfaatkan serta dikembangkan semaksimal mungkin bersama masyarakat.

Sejak diwakafkan maka pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat, manajemen dan pembiayaannya menjadi tanggung-jawab bersama. Mulailah dilakukan beberapa pembenahan antara lain;

  1. Pembentukan Badan Pengelola Masjid Nurul Iman Cilangkap periode 2013-2016
  2. Pembentukan Panitia Renovasi Lantai , Dinding, Tangga, Tempat Wudhu dan Toilet Masjid
  3. Pembentukan Panitia Shalat Ied dan Penyelenggaraan Qurban
  4. Pengecatan ulang dan pembuatan Kubah Mimbar serta tulisan Kaligrafi
  5. Penggalangan dana untuk mengganti sound system Masjid
  6. Perbaikan dan pembuatan tanggul / turap penahan air.

Semua ini 90% sudah selesai dikerjakan sepanjang tahun 2013 kemarin. Tahun 2014 ini insya Allah dilanjutkan pemasangan awning untuk teras lantai dua dan tempat wudhu bawah serta horden / dinding hijab untuk jamaah ibu-ibu.

Adapun kegiatan memakmurkan masjid dilakukan dengan;

  1. Membuka program Tahsin dan Tahfidz untuk anak (3x seminggu)
  2. Tahsin dan Tahfidz untuk Bapak setiap malam Rabu
  3. Tahsin untuk Ibu setiap Ahad pagi, Tahfidz setiap Sabtu pagi
  4. Pengajian umum Tafsir setiap malam Ahad
  5. Pengajian umum Dirasah Islamiyah setiap malam Senin
  6. Pengajian umum Hadits Arbain setiap malam Selasa
  7. Pengajian umum Hadits Riadhus-Shalihin setiap malam Kamis
  8. Pembelajaran Bahasa Arab setiap malam Sabtu
  9. Bimbingan Ketrampilan bagi ibu-ibu setiap Ahad siang
  10. Pembacaan Kitab Fiqih Sunnah setiap ba’da Subuh
  11. Kajian Shirah Nabawi setiap subuh Ahad pekan II.
  12. Bersama Majelis Ta’lim As-Sunnah pengajian setiap Rabu pagi sampai Zuhur
  13. Bersama Wasilah Subuh pengajian setiap subuh Sabtu pekan I.

Kegiatan Sosial Masjid

Adapun kegiatan sosial setiap awal bulan:

menyantuni anak yatim dan dhuafa serta mendidik dan memberikan pelatihan ketrampilan kepada mereka.Sejak tahun 2014 sampai dengan sekarang (2018) ada beberapa penambahan fasilitas dan sarana :

  1. Pengadaan dan penggantian karpet sajadah untuk seluruh ruang dalam masjid.
  2. Penambahan ruang kelas untuk program tahfidz.
  3. Pemasangan AC serta mengganti/menambah untuk seluruh pintu dan jendela dengan kaca, dan penambahan daya listrik.
  4. Penambahan wc/toilet baik untuk bapak-bapak maupun ibu-ibu.
  5. Pemasangan kanopi dan pengecoran halaman.
  6. Ikut merintis berdirinya KITAMART.
  7. Pelayanan jamaah dengan pengadaan air minum “kangen water”.

Untuk kegiatan peribadatan, kajian, dakwah dan sosial makin semarak. Bisa dilihat pada jadwal kajian rutin oleh Biro Dakwah, Biro Ibadah dan Biro Sosial. Semoga untuk tahun-tahun selanjutnya Masjid Nurul Iman mampu menjadi kebanggaan masyarakat (umat) yang ditandai takmir masjid dan syiar Islam lebih semarak, sehingga memancarkan “Cahaya Iman” kemana-mana sesuai dengan namanya Nurul Iman.

Jakarta, 25 Februari 2014.

Naskah dibuat oleh : Tasyrifin Karim.
Ketua Badan Pengelola Masjid Nurul Iman Cilangkap.

Koreksi oleh : Pembina dan Ketua Yayasan Nurul Iman Cilangkap.

You May Also Like…

Tak Ditemukan Hasil

Laman yang Anda rikues tak dapat ditemukan. Cobalah mengganti pencarian Anda, atau gunakan navigasi di atas untuk mencari postingan.

0 Komentar

Kirim Komentar

Share This